Saturday, February 25, 2012

REFLEKSI (1)


Tuhan hadir dimanapun kita berada… tanpa disadari Tuhan berkarya di dalam diri kita.
Hal ini sering aku rasakan ketika memakai seragam kebanggaanku.
Apapun yang kulakukan semata-mata itu adalah pekerjaan Tuhan…
Tuhan memakaiku sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk merawat mereka.



Minggu kedua praktik profesi di ruang perawatan medical-bedah, aku mendapat kasus asuhan keperawatan menangani penyakit yang kompleks. Pasien dalam usia yang muda menderita penyakit yang parah. Laporan pagi mengatakan pasien dan keluarga sulit berkooperatif dengan perawat ruangan. Aku menjadi ciut dan merasa “ apakah dapat merawat pasien ini ?” Pengalaman praktik klinik-ku jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan perawat lain yang memiliki jam terbang jauh lebih tinggi daripada-ku. Sempat memiliki kekhawatiran dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini. Perawat lain yang jauh lebih berpengalaman tidak dapat mengajak pasien dan keluarga untuk berkooperatif dalam asuhan keperawatan, apalagi aku yang masih tergolong singkat dalam pengalaman praktik klinik.

Ketika melangkahkan kaki ke kamar pasien tersebut, dalam hati aku memohon kekuatan Tuhan memampukan  berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Paling tidak bilapun pasien dan keluarga tidak menerima, Tuhan dapat memberikan kesabaran hati bagiku dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini.

Saat bertemu pasien dan keluarga untuk pertama kali, dengan ringan dan tersenyum aku mengucapkan salam “Selamat pagi“ dan memperkenalkan namaku. Sedikit berlega hati saat itu karena keluarga pasien tersenyum meskipun wajah pasien tampak muram memandangku. Hari itu aku melakukan pengkajian, penentuan masalah beserta dengan intervensi dan evaluasinya. Mendekati jam pulang dinas pagi … aku puas dengan apa yang dapat dikerjakan hari itu. Bersyukur karena Tuhan melunakkan hati pasien dan keluarganya untuk menerima kehadiranku.
         
Laporan pagi keesokan harinya aku terkejut ketika dikatakan bahwa pasien yang menjadi kasus askep-ku minta pulang paksa. Aku merasa bahwa sehari sebelumnya pasien tidak pernah mengutarakan niatnya untuk pulang paksa terlebih lagi  pasien sedang menjalani terapi transfusi darah selama 3 hari berturut-turut dan hari itu adalah hari kedua program transfusi darah. Keluarga sudah berusaha untuk menahan pasien agar tetap dirawat inap tetapi pasien berkeras hati ingin pulang. Sewaktu keluarga mengurus rekening pasien dan konfirmasi PMI untuk membatalkan transfusi darah, aku mencoba berbicara dengan pasien dan menggali alasan pasien minta pulang paksa. Pasien mengatakan tidak betah dan merasa bahwa kehadirannya merepotkan perawat ruangan. Akupun mencoba untuk menganjurkan pasien tetap rawat inap mengingat kondisi pasien sangat buruk dan memberikan analogi yang dapat dimengerti oleh pasien… menenangkan situasi hatinya yang marah dengan perawat yang lain. Setelah agak lama berbicara dan membujuknya … akhirnya pasien mengatakan bahwa dia bersedia dirawat sampai program tansfusi darah selesai … aku lega dan bersyukur bahwa Tuhan bekerja dalam diri ini untuk  melunakkan hati pasien ini.
         
Persoalan baru muncul kembali pada saat akan dilakukan transfusi darah, cairan infus tidak dapat menetes dan area pemasangan infus pada kulit pasien teraba bengkak dan terasa nyeri. Perawat ruangan menganjurkan agar infus dilepas dan dilakukan pemasangan yang baru. Aku tidak ingin menyakiti pasien berulangkali dengan memberanikan diri memasang infus pasien mengingat kondisi tubuh pasien bengkak dan pembuluh darah vena tidak terlihat maupun teraba. Salah seorang perawat senior melakukan pemasangan infus dan gagal berulang kali. Saat itu perawat ruangan banyak yang tidak yakin mampu memasang infus pada tangan pasien. Sebelum perawat lain mencoba memasang infus, aku mencoba mengajak pasien berdoa memohon kehadiran Tuhan bekerja melalui tangan kami. Ketika salah seorang perawat ruangan mencoba untuk memasang infus …. akupun merasa geli dan tersenyum ketika menjumpai perawat ini sedang mencari pembuluh darah vena yang tepat untuk dipasang infus sambil bernyanyi lagu rohani. Aku yakin bahwa perawat inipun juga sedang berdoa memohon rahmat Tuhan melalui lagu rohani yang sedang dinyanyikannya. Perawat ini mengatakan padaku untuk tetap menemaninya terkait dengan kepercayaan pasien yang begitu besar dengan kehadiranku disampingnya sembari perawat ini memasang infus pada tangan pasien. Kembali berlega hati …. perawat ini berhasil memasang infus tersebut.
         
Selama menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini … banyak hal aku belajar dari pasien dan sesama perawat lain. Banyak hal dimana aku merasa bahwa apa yang menjadi kekuranganku mampu dilengkapi oleh perawat lain dan apa yang menjadi kekurangan mereka … Tuhan memampukanku untuk melengkapinya. Aku yakin ketika kita mengangkat tangan kita, berdoa dan berserah maka Tuhan akan turun tangan membantu dan menyelesaikan semua persoalan kita.



No comments:

Post a Comment