Tuhan hadir dimanapun kita berada…
tanpa disadari Tuhan berkarya di dalam diri kita.
Hal ini sering aku rasakan ketika memakai
seragam kebanggaanku.
Apapun yang kulakukan semata-mata
itu adalah pekerjaan Tuhan…
Tuhan memakaiku sebagai perpanjangan
tangan-Nya untuk merawat mereka.
Minggu kedua praktik profesi di ruang
perawatan medical-bedah, aku mendapat kasus asuhan keperawatan menangani
penyakit yang kompleks. Pasien dalam usia yang muda menderita penyakit yang
parah. Laporan pagi mengatakan pasien dan keluarga sulit berkooperatif dengan
perawat ruangan. Aku menjadi ciut dan merasa “ apakah dapat merawat pasien ini
?” Pengalaman praktik klinik-ku jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan
perawat lain yang memiliki jam terbang jauh lebih tinggi daripada-ku. Sempat memiliki
kekhawatiran dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini. Perawat lain
yang jauh lebih berpengalaman tidak dapat mengajak pasien dan keluarga untuk
berkooperatif dalam asuhan keperawatan, apalagi aku yang masih tergolong
singkat dalam pengalaman praktik klinik.
Ketika melangkahkan kaki ke kamar
pasien tersebut, dalam hati aku memohon kekuatan Tuhan memampukan berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Paling
tidak bilapun pasien dan keluarga tidak menerima, Tuhan dapat memberikan
kesabaran hati bagiku dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini.
Saat bertemu pasien dan keluarga
untuk pertama kali, dengan ringan dan tersenyum aku mengucapkan salam “Selamat
pagi“ dan memperkenalkan namaku. Sedikit berlega hati saat itu karena keluarga
pasien tersenyum meskipun wajah pasien tampak muram memandangku. Hari itu aku
melakukan pengkajian, penentuan masalah beserta dengan intervensi dan
evaluasinya. Mendekati jam pulang dinas pagi … aku puas dengan apa yang dapat dikerjakan
hari itu. Bersyukur karena Tuhan melunakkan hati pasien dan keluarganya untuk
menerima kehadiranku.
Laporan pagi keesokan harinya aku
terkejut ketika dikatakan bahwa pasien yang menjadi kasus askep-ku minta pulang
paksa. Aku merasa bahwa sehari sebelumnya pasien tidak pernah mengutarakan
niatnya untuk pulang paksa terlebih lagi
pasien sedang menjalani terapi transfusi darah selama 3 hari
berturut-turut dan hari itu adalah hari kedua program transfusi darah. Keluarga
sudah berusaha untuk menahan pasien agar tetap dirawat inap tetapi pasien
berkeras hati ingin pulang. Sewaktu keluarga mengurus rekening pasien dan
konfirmasi PMI untuk membatalkan transfusi darah, aku mencoba berbicara dengan
pasien dan menggali alasan pasien minta pulang paksa. Pasien mengatakan tidak
betah dan merasa bahwa kehadirannya merepotkan perawat ruangan. Akupun mencoba
untuk menganjurkan pasien tetap rawat inap mengingat kondisi pasien sangat
buruk dan memberikan analogi yang dapat dimengerti oleh pasien… menenangkan
situasi hatinya yang marah dengan perawat yang lain. Setelah agak lama
berbicara dan membujuknya … akhirnya pasien mengatakan bahwa dia bersedia
dirawat sampai program tansfusi darah selesai … aku lega dan bersyukur bahwa
Tuhan bekerja dalam diri ini untuk
melunakkan hati pasien ini.
Persoalan baru muncul kembali pada
saat akan dilakukan transfusi darah, cairan infus tidak dapat menetes dan area
pemasangan infus pada kulit pasien teraba bengkak dan terasa nyeri. Perawat
ruangan menganjurkan agar infus dilepas dan dilakukan pemasangan yang baru. Aku
tidak ingin menyakiti pasien berulangkali dengan memberanikan diri memasang
infus pasien mengingat kondisi tubuh pasien bengkak dan pembuluh darah vena
tidak terlihat maupun teraba. Salah seorang
perawat senior melakukan pemasangan infus dan gagal berulang kali. Saat itu
perawat ruangan banyak yang tidak yakin mampu memasang infus pada tangan
pasien. Sebelum perawat lain mencoba memasang infus, aku mencoba mengajak
pasien berdoa memohon kehadiran Tuhan bekerja melalui tangan kami. Ketika salah
seorang perawat ruangan mencoba untuk memasang infus …. akupun merasa geli dan
tersenyum ketika menjumpai perawat ini sedang mencari pembuluh darah vena yang
tepat untuk dipasang infus sambil bernyanyi lagu rohani. Aku yakin bahwa
perawat inipun juga sedang berdoa memohon rahmat Tuhan melalui lagu rohani yang
sedang dinyanyikannya. Perawat ini mengatakan padaku untuk tetap menemaninya
terkait dengan kepercayaan pasien yang begitu besar dengan kehadiranku
disampingnya sembari perawat ini memasang infus pada tangan pasien. Kembali
berlega hati …. perawat ini berhasil memasang infus tersebut.
Selama menjalankan asuhan keperawatan
pada pasien ini … banyak hal aku belajar dari pasien dan sesama perawat lain. Banyak
hal dimana aku merasa bahwa apa yang menjadi kekuranganku mampu dilengkapi oleh
perawat lain dan apa yang menjadi kekurangan mereka … Tuhan memampukanku untuk
melengkapinya. Aku yakin ketika kita mengangkat tangan kita, berdoa dan
berserah maka Tuhan akan turun tangan membantu dan menyelesaikan semua
persoalan kita.


No comments:
Post a Comment