Saturday, February 25, 2012

REFLEKSI (2)


Banyak hal yang dialami dalam pengalaman praktik klinik ketika Profesi. Tidak hanya permasalahan dalam menggeluti kasus asuhan keperawatan individu tetapi juga dengan diri sendiri. Gerbong pertama profesi adalah titik tolak dimana mau tidak mau kondisi badan harus menyesuaikan dengan tuntutan tugas yang begitu radikal berbeda bila dibandingkan dengan masa-masa kuliah di akademik. Yang biasanya tidur 7 – 8 jam sehari sepertinya sudah tidak dapat diberlakukan lagi … bahkan waktu untuk tidur menjadi sesuatu hal yang langka untuk dapat dialami selama menjalankan kasus asuhan keperawatan individu.

Tidak hanya tugas individu yang menjadi tantangan bagi kami … melainkan juga perseteruan dengan teman dalam mengerjakan tugas seminar kelompok dimana tingkat toleransi terhadap teman yang lain terutama dengan yang bekerja dan sudah berkeluarga harus menjadi sedemikian tinggi. Melatih kesabaran terhadap diri sendiri ketika dihadapkan dengan sikap teman yang acuh tidak acuh dengan seminar kelompok yang menjadi tugas bersama. Menyikapi kondisi yang sedemikian timpang antar teman bukanlah sesuatu hal yang mudah …. ketika beberapa orang mengerjakan tugas seminar kelompok sejak pagi hingga larut malam dan masih pula membawa tugas tersebut untuk dikerjakan di rumah bahkan ada yang sampai sakit karena terlalu lelah dan tidak dapat dinas …. ada pula teman yang lain dengan begitu santainya cuci tangan terhadap diskusi kelompok seminar dan ada pula yang datang saat diskusi kelompok tetapi hanya mengerjakan kebutuhan pribadinya saja.

Banyak hal dimana saya belajar untuk sabar dengan diri sendiri ketika emosi ikut bergejolak melihat dan merasakan kondisi saat itu. Tentu saja … siapapun juga akan kesal hati dan kecewa dengan sikap teman-teman yang tidak mau tahu dengan persoalan kelompok padahal tugas itu merupakan tugas bersama dan hasilnya pun juga untuk bersama.

Pada akhir perpisahan gerbong …. kami melakukan evaluasi dengan diri sendiri maupun antar teman. Hal ini cukup melegakan karena tentunya kami tidak ingin hal ini menjadi luka batin bagi masing-masing individu. Akupun tidak ingin berpikiran negatif tentang teman-teman yang bermasalah pada waktu lampau yang bisa jadi akan bermuara menjadi kekhawatiran bila suatu saat nanti kembali satu kelompok dengan mereka.

Mencoba belajar untuk bersikap acuh tak acuh dengan kondisi yang ada…. mengacu pada tujuan awal kuliah dan mengikuti profesi ini bukanlah untuk mengejar nilai dan gelar. Visi yang mengacu pada proses belajar ; proses berubah menjadi lebih tahu dan lebih baik sebagai seorang perawat. Tentunya visi setiap orang berbeda dan tentu saja di dalam prosesnya pun juga akan berbeda. Dan tidak bisa memaksa untuk mempunyai visi yang sama karena setiap individu mempunyai visi yang berbeda.

Dalam hal ini banyak hal aku belajar untuk menerima dan memahami bahwa setiap orang adalah unik dan tentunya tidak ada gading yang tak retak. Ketika dihadapkan kembali dengan permasalahan yang sama … aku kembali diajak belajar untuk menjadi lebih sabar dengan diri sendiri.



REFLEKSI (1)


Tuhan hadir dimanapun kita berada… tanpa disadari Tuhan berkarya di dalam diri kita.
Hal ini sering aku rasakan ketika memakai seragam kebanggaanku.
Apapun yang kulakukan semata-mata itu adalah pekerjaan Tuhan…
Tuhan memakaiku sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk merawat mereka.



Minggu kedua praktik profesi di ruang perawatan medical-bedah, aku mendapat kasus asuhan keperawatan menangani penyakit yang kompleks. Pasien dalam usia yang muda menderita penyakit yang parah. Laporan pagi mengatakan pasien dan keluarga sulit berkooperatif dengan perawat ruangan. Aku menjadi ciut dan merasa “ apakah dapat merawat pasien ini ?” Pengalaman praktik klinik-ku jauh lebih singkat bila dibandingkan dengan perawat lain yang memiliki jam terbang jauh lebih tinggi daripada-ku. Sempat memiliki kekhawatiran dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini. Perawat lain yang jauh lebih berpengalaman tidak dapat mengajak pasien dan keluarga untuk berkooperatif dalam asuhan keperawatan, apalagi aku yang masih tergolong singkat dalam pengalaman praktik klinik.

Ketika melangkahkan kaki ke kamar pasien tersebut, dalam hati aku memohon kekuatan Tuhan memampukan  berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Paling tidak bilapun pasien dan keluarga tidak menerima, Tuhan dapat memberikan kesabaran hati bagiku dalam menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini.

Saat bertemu pasien dan keluarga untuk pertama kali, dengan ringan dan tersenyum aku mengucapkan salam “Selamat pagi“ dan memperkenalkan namaku. Sedikit berlega hati saat itu karena keluarga pasien tersenyum meskipun wajah pasien tampak muram memandangku. Hari itu aku melakukan pengkajian, penentuan masalah beserta dengan intervensi dan evaluasinya. Mendekati jam pulang dinas pagi … aku puas dengan apa yang dapat dikerjakan hari itu. Bersyukur karena Tuhan melunakkan hati pasien dan keluarganya untuk menerima kehadiranku.
         
Laporan pagi keesokan harinya aku terkejut ketika dikatakan bahwa pasien yang menjadi kasus askep-ku minta pulang paksa. Aku merasa bahwa sehari sebelumnya pasien tidak pernah mengutarakan niatnya untuk pulang paksa terlebih lagi  pasien sedang menjalani terapi transfusi darah selama 3 hari berturut-turut dan hari itu adalah hari kedua program transfusi darah. Keluarga sudah berusaha untuk menahan pasien agar tetap dirawat inap tetapi pasien berkeras hati ingin pulang. Sewaktu keluarga mengurus rekening pasien dan konfirmasi PMI untuk membatalkan transfusi darah, aku mencoba berbicara dengan pasien dan menggali alasan pasien minta pulang paksa. Pasien mengatakan tidak betah dan merasa bahwa kehadirannya merepotkan perawat ruangan. Akupun mencoba untuk menganjurkan pasien tetap rawat inap mengingat kondisi pasien sangat buruk dan memberikan analogi yang dapat dimengerti oleh pasien… menenangkan situasi hatinya yang marah dengan perawat yang lain. Setelah agak lama berbicara dan membujuknya … akhirnya pasien mengatakan bahwa dia bersedia dirawat sampai program tansfusi darah selesai … aku lega dan bersyukur bahwa Tuhan bekerja dalam diri ini untuk  melunakkan hati pasien ini.
         
Persoalan baru muncul kembali pada saat akan dilakukan transfusi darah, cairan infus tidak dapat menetes dan area pemasangan infus pada kulit pasien teraba bengkak dan terasa nyeri. Perawat ruangan menganjurkan agar infus dilepas dan dilakukan pemasangan yang baru. Aku tidak ingin menyakiti pasien berulangkali dengan memberanikan diri memasang infus pasien mengingat kondisi tubuh pasien bengkak dan pembuluh darah vena tidak terlihat maupun teraba. Salah seorang perawat senior melakukan pemasangan infus dan gagal berulang kali. Saat itu perawat ruangan banyak yang tidak yakin mampu memasang infus pada tangan pasien. Sebelum perawat lain mencoba memasang infus, aku mencoba mengajak pasien berdoa memohon kehadiran Tuhan bekerja melalui tangan kami. Ketika salah seorang perawat ruangan mencoba untuk memasang infus …. akupun merasa geli dan tersenyum ketika menjumpai perawat ini sedang mencari pembuluh darah vena yang tepat untuk dipasang infus sambil bernyanyi lagu rohani. Aku yakin bahwa perawat inipun juga sedang berdoa memohon rahmat Tuhan melalui lagu rohani yang sedang dinyanyikannya. Perawat ini mengatakan padaku untuk tetap menemaninya terkait dengan kepercayaan pasien yang begitu besar dengan kehadiranku disampingnya sembari perawat ini memasang infus pada tangan pasien. Kembali berlega hati …. perawat ini berhasil memasang infus tersebut.
         
Selama menjalankan asuhan keperawatan pada pasien ini … banyak hal aku belajar dari pasien dan sesama perawat lain. Banyak hal dimana aku merasa bahwa apa yang menjadi kekuranganku mampu dilengkapi oleh perawat lain dan apa yang menjadi kekurangan mereka … Tuhan memampukanku untuk melengkapinya. Aku yakin ketika kita mengangkat tangan kita, berdoa dan berserah maka Tuhan akan turun tangan membantu dan menyelesaikan semua persoalan kita.



Saturday, February 4, 2012

Once Upon a Time in my Step


Once Upon a Time in my Step


Setiap hari selalu baru… berjumpa dengan hal-hal baru… dan belajar tentang hal-hal yang baru.
Perjalanan unik sering muncul tidak terduga baik yang kita kehendaki ataupun yang tidak kita kehendaki.
Tentu saja tidak ingin ada orang yang berada dalam situasi yang pelik…
Tapi pada akhir dari situasi itu…
aku percaya bahwa ada pelajaran berharga yang berguna dalam perjalanan hidup untuk melangkah ke depan dan menguatkan langkah kaki ini.


Suatu ketika secara tidak terduga…. bertemu dengan teman sewaktu praktik klinik di ruang perawatan medikal-bedah. Dia lebih tua 1 tahun, usianya waktu itu 21 tahun. Aku mengenalnya sebagai sosok perempuan yang riang dan senang tertawa serta berbagi cerita konyol yang lucu.

Dia dirawat di ruangan itu kurang lebih sudah berjalan 2 minggu. Ketika bertemu dengan dia, dia terlihat seperti tidak sakit layaknya pasien yang lain. Kami sempat berbincang sebentar saat aku merapikan tempat tidurnya, setelah selesai…. aku permisi untuk keluar.
Sebelum aku melangkah keluar dari kamar itu… dia bertanya sebenarnya penyakitnya apa ( dari raut wajahnya aku melihat kalau dia sungguh tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya saat ini ) dia hanya tahu kalau dia sakit pinggang.
Aku mengatakan padanya akan kembali menjenguknya setelah dinas dengan alasan hari ini pasien full di ruangan dan ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Sempat aku ragu apakah temanku itu yang tadi sewaktu pergantian shift dikatakan bahwa penyakitnya tidak boleh diberitahukan pada pasien itu sendiri. Sejujurnya akupun juga baru tahu kalau dia sedang dirawat ketika aku masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata setelah aku memastikan kembali untuk melihat rekam mediknya secara lebih seksama…. memang benar bahwa orangtuanya berpesan pada tenaga kesehatan yang merawatnya untuk tidak memberitahukan mengenai perkembangan penyakitnya kepada pasien sendiri ataupun orang lain kecuali pada orangtuanya. Dan aku mencoba membaca tentang perkembangan penyakitnya dari rekam mediknya.

Awal pertama kali dia didiagnosa menderita low back pain tiga bulan sebelum dirawat saat ini, lalu selang beberapa minggu kemudian dia didiagnosa menderita penyakit yang berbeda, dan dalam perkembangannya sampai pada akhirnya dia divonis menderita Ca tulang dan programnya direncanakan chemoterapi.

Tidak kuduga… temanku menderita Ca tulang. Padahal belum sampai setengah tahun yang lalu… aku bertemu, bermain bersama dia dan teman-teman yang lainnya di arena Time Zone, dia tidak ada keluhan apa-apa.

Dari penjelasan dokter yang merawatnya waktu itu kepada ibunya bahwa bila pasien menolak di-kemoterapi, hidupnya hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu tahun.

Selesai dinas…. Aku memenuhi janjiku untuk datang menjenguknya.
Dalam perjalanan menuju ke ruangan tersebut … sangat berat sekali untuk tidak mengatakan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dilema antara saat ini aku adalah seorang perawat yang harus memegang kode etik profesiku dan aku juga adalah temannya.
Sambil berjalan… sambil berpikir dan berandai-andai. Aku membayangkan kalau berada dalam posisinya dan aku tahu kalau aku mempunyai penyakit yang parah dan sangat mengancam kehidupanku… apa yang akan kulakukan.
Berpikir berbagai kemungkinan yang akan terjadi …. sangat mungkin sekali putus asa dan tidak mau dirawat atau aku akan tetap berjuang melawan penyakit ini.
Mungkin alasan yang terburuklah yang mendasari orangtuanya untuk berbuat hal seperti ini ; menutupi penyakit anaknya dari anak itu sendiri.

Setelah sampai di ruangannya… dengan wajah yang cerah, dia menyapa, aku tahu kalau dia menunggu jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan tadi pagi.
Mengajaknya bercerita dan bernostalgia kembali tentang pertemuan kami yang terakhir, bermain dan berjoget bersama di Time Zone….
Bercerita sambil tertawa tentang hal-hal ringan yang lainnya.
Dan tiba-tiba dia bertanya kembali… tentang sesuatu hal dimana aku juga tidak ingin menjawabnya.
Sesaat terdiam dan sempat aku menangkap wajah ibunya yang mulai gelisah tetapi tetap tenang dan tersenyum.
Temanku sekali lagi bertanya, “Kamu pasti tahu…apa penyakitku. Tidak akan diam seperti yang lainnya, seperti juga Mama”, sambil melirik ke arah ibunya yang duduk di sampingnya.
Aku mencoba tersenyum ringan sambil menatap ibunya (berbicara dari mata ke mata dengan sang ibu, berharap ibunya menolongku dari situasi ini).
Hening sejenak dan sang ibu pergi ke arah wastafel dengan mata berkaca-kaca.
Dan aku mengerti bahwa situasi ibunya mungkin lebih pelik daripada situasiku sendiri saat ini.

Sambil menghela nafas sejenak dan tersenyum ringan, aku memegang salah satu tangannya dan merapatkannya di antara kedua tanganku (sebuah teknik “touching” yang aku pelajari dalam perkuliahan, yang dipercaya dapat menenangkan situasi pelik… mungkin situasi seperti ini, pikirku saat itu yang baru menginjak tahun kedua di bangku kuliah).

Agak lupa-lupa ingat tentang kata-kata yang waktu itu aku utarakan…. Tapi pada intinya seperti ini,
“Saat ini aku belum bisa bilang tentang jawaban dari pertanyaan kamu Din. Mungkin belum menjadi waktu yang tepat untuk kamu tahu semuanya, tetapi percayalah … tidak ada sesuatu apapun yang tidak akan kamu ketahui. Semuanya ada waktunya”. 

Matanya mulai berkaca-kaca dan memohon untuk mengatakan apa yang sedang terjadi pada dirinya,  dia mengatakan dia sangat ingin tahu, bahkan terucap kata-kata yang menebak kalau penyakitnya itu parah. 

Ibunya kemudian mendekatinya dan menenangkannya.
Tak terasa mata ini mulai terasa hangat dan sadar… sebelum aku menambah situasi semakin pelik, lebih baik aku permisi keluar. 

Mungkin …. kalau dia bukan seseorang yang kukenal … aku tidak akan terlalu hanyut dalam emosiku sendiri.
Selang beberapa hari kemudian… setelah selesai dinas, aku mencoba berbicara dengan ibunya. Ibunya mengatakan kalau dia tidak sanggup bila harus memberitahunya sekarang. Ibunya berjanji kalau dia akan segera berbicara pada anaknya bersama dengan ayahnya yang akan datang dari luar pulau tidak lama lagi.

Cukup lega mendengarnya … karena terus terang tidak tega melihatnya terus  bertanya padaku dan perawat lain yang datang ke kamarnya.
Dan tentu saja sebagai temannya, aku selalu diingatkan oleh rekan yang lain untuk tidak memberitahukan penyakitnya.
Selanjutnya aku mencoba untuk tidak sering masuk ke kamarnya ketika dinas… mencoba untuk tidak terpancing emosi melihat pancaran sinar mata sendunya ketika menjenguknya sepulang dinas.

Suatu sore… sedikit kaget .. ketika melihat matanya bengkak dan banyak tissue yang memenuhi tempat tidurnya. Sedikit lega… ayah dan ibunya sudah memberitahu tentang apa yang mereka sembunyikan selama ini.
Aku melihat bahwa dia sangat terpukul tetapi berusaha untuk tersenyum padaku.

Beberapa hari kemudian aku melihat kalau pergerakannya sudah sangat sulit. Awal aku bertemu seminggu sebelumnya… dia masih bisa duduk. Tapi sekarang sudah tidak kuat menahan beban dan hanya bisa berbaring dan miring, ditambah lagi nyeri yang hilang timbul di area pinggang belakang.
Saat itu aku berpikir… sedemikian parahnya perjalanan penyakitnya tetapi dia masih bisa tersenyum.

Sewaktu dinas sore, aku melihatnya berkaca sambil menyisir rambutnya yang tampak berminyak, aku menawarkan untuk membantunya keramas di tempat tidur. Dia mengatakan sebenarnya sejak masuk RS, dia tidak keramas karena tidak kuat berjalan ke kamar mandi.
Dan sambil berceloteh ringan, dia bertanya, “Memang bisa keramas sambil berbaring, kalau aku tahu bisa… sudah dari dulu aku minta keramas”

Sambil membantunya keramas, kami sambil bercerita…
Dia cukup lega sudah mengetahui semuanya dan dia mengatakan bahwa tidak mau kemoterapi. Dia mengatakan kalau keluarganya dan dia sendiri tidak mempercayai kemoterapi sebagai salah satu penyembuhan dari penyakitnya dan saat ini sedang mencoba mencari informasi mengenai pengobatan alternatif lain.
Sambil bercerita…diapun bertanya apakah benar kalau umurnya tidak lama bila menolak kemoterapi.
Sejenak terdiam ketika mendengar pertanyaan itu sambil berpikir bagaimana aku harus tetap meyakinkan dia dimana saat ini situasi hatinya masih menolak penyakit ini, “Menurut ilmu medis … saat ini kemoterapi merupakan pengobatan yang tepat bagi penyakit ini, tetapi mungkin bukan satu-satunya penyembuhan bagi penyakit ini. Mengenai usia seseorang …. tidak ada seorang manusia … betapapun hebatnya manusia itu … tidak ada yang tahu kapan kita kembali kepada Tuhan”.

Sekilas melihat air matanya meleleh dan dia berujar, “Bisa sembuh-kan?”.

Aku terdiam dan mencoba memetakan kembali tentang perjalanan hidupku yang pada waktu itupun mencoba mencari berbagai cara untuk menyembuhkan penyakitku. Memang tidak jauh lebih serius daripada penyakitnya, tetapi aku-pun juga ingin menularkan keyakinanku padanya, “Din…jangan cape berdoa ya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”.
Dia menangis dan menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.

Sore itu adalah pertemuan kami yg terakhir.

Informasi yang kudengar… dia dan keluarganya memutuskan untuk pulang dan menjalankan pengobatan alternatif.  Beberapa saat setelah itu aku mencoba menghubunginya melalui telepon tetapi tidak ada jawaban, mungkin nomor Hp-nya sudah berganti atau ……???

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sampai dengan saat ini.
Hanya dapat berharap hal yang terbaik dalam hidupnya.
  

Kisah diatas merupakan salah satu sepenggal kisah dari sekian banyak peristiwa yang memberikan pelajaran berarti dalam perjalanan hidupku.

Dan aku bersyukur, aku boleh memilih profesi ini… dimana aku banyak belajar tentang pergumulan dan perjuangan hidup.



To The Nurses of The World


Kepada Seluruh Perawat di Dunia
(To The Nurses of The World)





Kalian adalah orang yang membesarkan hati,
Kalian tidak menyadari, kalau kalian adalah orang-orang besar.
Apa yang tak dapat kalian lakukan,
tak akan menghentikan langkah kalian
untuk melakukan apa yang dapat kalian kerjakan.
Kalian adalah penjual,
Koper kalian penuh dengan barang yang namanya ”Pengharapan”.
Kalian adalah penjelajah,
Karena kalian tahu bahwa kalau kalian pergi jauh,
Kalian akan melihat lebih jauh lagi.
Kalian adalah biduan yang mendendangkan melodi ”Tenggang rasa”
Kalian adalah pembela perkara kehidupan.
Kalian adalah sumber inspirasi, yang membantu orang menambahkan 
lebih banyak cerita pada halaman buku mereka.
Kalian adalah pelawak,  yang memberi obat ” Tertawa”
Kalian adalah seniman,
Yang melukiskan gambar-gambar kesehatan di atas kanvas pikiran.
Kalian adalah pesulap
Yang menciptakan keajaiban nyata 
yang mengilhami pasien dan keluarganya.
Seperti Raja Arthur dan Joan of Arc, kalian adalah prajurit,
Yang bertempur melawan “Sikap negative”
Dorothy akan mencapai Oz lebih cepat ditemani seorang perawat.
Tak ada seorangpun yang dapat menjalani profesi perawat,
Kecuali mereka yang memiliki otak yang penuh kebijaksanaan,
memiliki keberanian tanpa batas
dan punya hati yang penuh kasih sayang.
Anda adalah bukti nyata bahwa manusia diciptakan
dalam gambar dan rupa Tuhan,
dan bahwa Allah adalah KASIH ...



aaa-----vvv-----aaa


You evangelists of encouragement, you are so much more than you know.
You have never let what you couldn't do stop you from doing all you could do.
You are salespeople; your briefcases are filled with a product called hope.
You are explorers, knowing that once you have gone as far as you can see,
you will still see farther.
You are singers spreading the melody of consideration.
You are lawyers making a case for life.
You are authors helping others add more pages to their book of memories.
You are comedians dispensing the medicine of laughter.
You are magicians creating real miracles that inspire patients and families.
Like King Arthur and Joan of Arc,
you are warriors battling against the villains of negativity.
Dorothy would have reached Oz much faster in the company of one nurse.
For no one can practice your profession 
unless they already possess a brain brimming with wisdom,
boundless courage and a heart filled with love.
You are living proof that humanity is created in the image 
and likeness of GOD, and the name of that God is LOVE....... 


John Wayne Schlatter (Chicken Soup)



Friday, February 3, 2012

Jalanku Untuk Mencintai-Mu



One of my best experience
Being a nurse is one of the path to love Him

"The nurse knew that those who really love… love in silence, with deeds and not with words."
(Carlos Ruiz Zafón)

PERAWAT itu profesi yang luar biasa terhormat. Mengapa seperti itu? 
Karena perawat membutuhkan ketelitian, ketelatenan, kesabaran, kecerdasan, ketegasan, dan juga mother’s instinct (naluri seorang ibu).
Ungkapan di atas bahkan menyebutkan bahwa perawat bekerja konkret dengan sikap dan juga dengan cinta yang diam.

Profesi ini banyak berperan dalam kondisi sehari-hari seorang pasien. Perawat yang membantu kebutuhan dasar pasien, mengurus keseharian pasien, melakukan tindakan kolaborasi, serta menjadi orang pertama yang mengetahui perkembangan medis seorang pasien.

Memang… jasa mereka tidak dibayar sebesar jasa tenaga medis lain, misalnya dokter. Mungkin kita seringkali menomorduakan posisi perawat dan menganggap dokter adalah orang yang paling berjasa. Seringkali mungkin kita melupakan bahwa perawat pun sama berjasanya membantu kita untuk segera sembuh. Kita lupa bahwa perawat pun bekerja tanpa mengenal lelah siang dan malam untuk berusaha siap siaga selalu apabila pasien membutuhkan.

Banyak masyarakat awam yang belum mengerti tentang kemandirian profesi ini.
Profesi perawat tidak bisa dicampur adukkan ataupun dikatakan hanya sebagai pembantu dari profesi yang lain.
Satu hal penting dimana kita semua harus tahu bahwa perawat adalah suatu profesi dan berdiri sejajar dengan profesi yang lain… baik itu profesi dokter, apoteker, maupun profesi lainnya.
Di dalam rumah sakit … mereka bekerja satu tim. Tanpa ada salah satu profesi di atas… pelayanan mereka tidak akan sempurna. Mereka semua sama-sama saling menguatkan dan menyempurnakan dalam kesinambungan kerja.

Profesi ini merupakan profesi yang selalu dibutuhkan, lapangan pekerjaan mereka sangat jelas, dan mereka adalah pekerja paling banyak dari sebuah rumah sakit sekaligus merupakan ujung tombak dari pelayanan di rumah Sakit.
Dan tidak selalu di rumah sakit… profesi inipun juga ada di tengah-tengah masyarakat luas, karena perawat tidak hanya bekerja melayani orang yg sakit tetapi juga orang yg sehat. Cakupan kerja mereka meliputi bidang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang pengaplikasiannya dilakukan pada berbagai kegiatan.

Tepat tanggal 12 Mei adalah Hari Perawat Internasional.
Seluruh perawat di dunia bersuka cita karena pada hari itu mereka diingat.
Seluruh mahasiswa Ilmu Keperawatan pun bersorak dan bangga akan hari yang memperingati profesi mereka.
Tahun lalu telah turun ke jalan …. teman-teman perawat yang tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mereka mengancam mogok nasional jika Rancangan Undang-Undang (RUU) Keperawatan tidak segera disahkan.

Perawat di Indonesia berjumlah sangat banyak yaitu sekitar 60 % dari total tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. Tetapi… mereka belum memiliki perlindungan hukum yang jelas.
Indonesia merupakan tiga dari 10 anggota ASEAN yang belum memiliki UU Keperawatan bersama dengan Laos dan Vietnam.
Kondisi ini akan menjadi sasaran tenaga-tenaga kesehatan asing sehingga tenaga perawat dalam negeri akan terpinggirkan.
Mereka sudah bekerja dengan begitu maksimal, keras, dan tanpa mengenal lelah.
Mereka juga memberikan pelayanan di desa-desa tertinggal, pulau-pulau terluar dan perbatasan. Namun hingga saat ini perawat belum terlindungi dari berbagai risiko dan tuntutan hukum.
Inilah kondisi yang menyedihkan.

Betapa kita tidak menganggap penting perlindungan hukum atas mereka, padahal yang mereka minta hanyalah RUU Keperawatan yang segera disahkan. Isi RUU Keperawatan itu antara lain lingkup kewenangan perawat, sistem registrasi dan lisensi perawat, kehidupan profesional perawat serta lembaga yang menaungi perawat atau konsil.
Harapannya…. dengan disahkannya RUU Keperawatan ini, posisi perawat akan semakin kuat di ranah hukum, memiliki perlindungan dan kebijakan hukum yang jelas.
Apabila DPR tidak serius membahas RUU ini…. perawat akan bekerja tanpa perlindungan hukum yang jelas. Tentu ini akan menjadi balasan yang tidak setimpal apabila dibandingkan dengan ketulusan, pengabdian, serta cinta kasih mereka dalam menunjukkan kepedulani atas kesehatan seorang pasien.
Seringkali kita mendengar adanya aksi mogok kerja pada peristiwa atau tuntutan akan sesuatu hal yang dilakukan oleh beberapa pekerjaan tertentu… tetapi pada profesi perawat sangat mungkin akan menjadi suatu dilema yang besar.

Contoh sederhana…. seringkali ketika terjadi kenaikan BBM, tidak lama kemudian akan ada aksi mogok kerja demonstrasi menuntut kebijakan yang logis dalam pemberlakuan tarif yang sesuai.
Contoh yang lain  … seringkali pula kita menjumpai aksi mogok kerja berhari-hari yang dilakukan oleh para buruh pada suatu perusahaan menuntut kebijakan tentang kesejahteraan mereka.
Bagaimana dengan profesi perawat ?
Akan menjadi suatu dilema …. karena profesi perawat, kesehariannya berhadapan dengan keberlangsungan dan keselamatan hidup manusia.
Sisi moral, cinta kasih, tanggung jawab profesi, dan kepedulian yang sudah tertanam dalam diri perawat mau tidak mau mengajarkan mereka untuk selalu cepat tanggap, bertenggang rasa, mengerti dan belajar berkorban terhadap banyak hal.

Ketika suatu saat pada suatu moment … para perawat melakukan mogok kerja secara serentak dan bersama-sama dari berbagai penjuru… mendesak untuk segera disahkannya RUU Keperawatan yang sudah tertunda beberapa tahun lamanya  ( * alasan klasik dari para pejabat teras atas : mengatakan bahwa masih ada banyak hal-hal prioritas lainnya yang lebih penting daripada RUU Keperawatan yang perlu dirundingkan…. Misalnya seperti yang baru-baru ini disorot oleh publik tentang studi banding ke luar negeri yang menjadi pergunjingan bahwa hal itu adalah alibi untuk plesiran. well… we’ll see what’s the result of their study * ).

Akan menjadi suatu dilema… saat perawat melakukan mogok kerja untuk memperjuangkan disahkannya RUU Keperawatan yang selalu dikesampingkan … karena disaat itu pula dihadapkan pada situasi banyak kehidupan sesama yang sakit yang membutuhkan uluran tangan mereka segera dan tidak dapat berkompromi dengan waktu.

Walaupun demikian … satu hal yang patut dipuji adalah komitmen mereka untuk tetap berkarya memberikan pelayanan terbaik bagi semua lapisan masyarakat… meskipun sampai dengan saat ini perlindungan hukum bagi mereka belumlah jelas.

***-----***-----***-----***

Question
“Tidak berkecil hati-kah Anda … walaupun Anda sudah bekerja sepenuh hati tetapi tidak ada penghargaan yang bernilai diberikan kepada Anda?”
“Tidak merasa rendah diri-kah Anda … ketika Anda hanya dianggap sebagai pembantu dokter?”
“Tidak letihkah Anda …. berada dalam salah satu siklus shift 24 jam disisi pasien dengan berbagai komplain yang diberikan kepada Anda?”
“Tidak bosankah Anda … setiap hari berhadapan dengan kondisi pasien yang sakit, labil, dan banyak keluhan?”
“Tidak takutkah Anda… ketika suatu saat Anda terjebak dalam situasi yang memojokkan Anda ?”
“Tidak takutkah Anda … ketika suatu saat Anda dipanggil oleh lembaga hukum untuk memberikan keterangan dimana keterangan itu bisa saja mengkambing-hitamkan Anda?”
“Tidak takutkah Anda … tetap komit untuk melangkah dalam suatu profesi yang belum memiliki perlindungan hukum yang jelas buat Anda?”

Answer :
There's always those negative feelings while I am walking in this way.
But  it's my choice ... and I will still go on.
b’coz  I believe ... this work is the path that the God has entrust to me.


Nurses’s Prayer
Tuhan,
Beri mataku… terang untuk melihat mereka yg membutuhkan.
Beri hatiku… belas kasih dan pengertian.
Beri akal budiku… pengetahuan dan kebijaksanaan.
Beri telingaku… kemampuan mendengarkan.
Beri bibirku…. kata-kata penghiburan.
Beri tanganku… ketrampilan dan kelemah-lembutan.
Beri padaku Tuhan...
kekuatan untuk mengabdi secara murni dan bantuan untuk membawa bahagia 
bagi mereka yang aku layani.
Amin.