Once Upon a
Time in my Step
Setiap hari selalu baru… berjumpa dengan hal-hal baru… dan
belajar tentang hal-hal yang baru.
Perjalanan unik sering muncul tidak terduga baik yang kita
kehendaki ataupun yang tidak kita kehendaki.
Tentu saja tidak ingin ada orang yang
berada dalam situasi yang pelik…
Tapi pada akhir dari situasi itu…
aku percaya bahwa ada pelajaran berharga yang berguna dalam perjalanan hidup untuk melangkah ke depan dan menguatkan langkah kaki ini.
aku percaya bahwa ada pelajaran berharga yang berguna dalam perjalanan hidup untuk melangkah ke depan dan menguatkan langkah kaki ini.
Suatu ketika secara tidak terduga…. bertemu
dengan teman sewaktu praktik klinik di ruang perawatan medikal-bedah. Dia lebih
tua 1 tahun, usianya waktu itu 21 tahun. Aku mengenalnya sebagai sosok
perempuan yang riang dan senang tertawa serta berbagi cerita konyol yang lucu.
Dia dirawat di ruangan itu kurang lebih sudah
berjalan 2 minggu. Ketika bertemu dengan dia, dia terlihat seperti tidak sakit
layaknya pasien yang lain. Kami sempat berbincang sebentar saat aku merapikan
tempat tidurnya, setelah selesai…. aku permisi untuk keluar.
Sebelum aku melangkah keluar dari kamar itu…
dia bertanya sebenarnya penyakitnya apa ( dari raut wajahnya aku melihat kalau
dia sungguh tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya saat ini )
dia hanya tahu kalau dia sakit pinggang.
Aku mengatakan padanya akan kembali
menjenguknya setelah dinas dengan alasan hari ini pasien full di ruangan dan
ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sempat aku ragu apakah temanku itu yang tadi
sewaktu pergantian shift dikatakan bahwa penyakitnya tidak boleh diberitahukan
pada pasien itu sendiri. Sejujurnya akupun juga baru tahu kalau dia sedang dirawat
ketika aku masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata setelah aku memastikan kembali
untuk melihat rekam mediknya secara lebih seksama…. memang benar bahwa
orangtuanya berpesan pada tenaga kesehatan yang merawatnya untuk tidak
memberitahukan mengenai perkembangan penyakitnya kepada pasien sendiri ataupun
orang lain kecuali pada orangtuanya. Dan aku mencoba membaca tentang perkembangan
penyakitnya dari rekam mediknya.
Awal pertama kali dia didiagnosa menderita
low back pain tiga bulan sebelum dirawat saat ini, lalu selang beberapa minggu
kemudian dia didiagnosa menderita penyakit yang berbeda, dan dalam
perkembangannya sampai pada akhirnya dia divonis menderita Ca tulang dan
programnya direncanakan chemoterapi.
Tidak kuduga… temanku menderita Ca tulang.
Padahal belum sampai setengah tahun yang lalu… aku bertemu, bermain bersama dia
dan teman-teman yang lainnya di arena Time Zone, dia tidak ada keluhan apa-apa.
Dari penjelasan dokter yang merawatnya waktu
itu kepada ibunya bahwa bila pasien menolak di-kemoterapi, hidupnya hanya mampu
bertahan tidak lebih dari satu tahun.
Selesai dinas…. Aku memenuhi janjiku untuk
datang menjenguknya.
Dalam perjalanan menuju ke ruangan tersebut
… sangat berat sekali untuk tidak mengatakan apa yang sedang terjadi pada
dirinya. Dilema antara saat ini aku adalah seorang perawat yang harus memegang
kode etik profesiku dan aku juga adalah temannya.
Sambil berjalan… sambil berpikir dan
berandai-andai. Aku membayangkan kalau berada dalam posisinya dan aku tahu
kalau aku mempunyai penyakit yang parah dan sangat mengancam kehidupanku… apa
yang akan kulakukan.
Berpikir berbagai kemungkinan yang akan
terjadi …. sangat mungkin sekali putus asa dan tidak mau dirawat atau aku akan tetap
berjuang melawan penyakit ini.
Mungkin alasan yang terburuklah yang
mendasari orangtuanya untuk berbuat hal seperti ini ; menutupi penyakit anaknya
dari anak itu sendiri.
Setelah sampai di ruangannya… dengan wajah
yang cerah, dia menyapa, aku tahu kalau dia menunggu jawaban dari pertanyaan
yang dia ajukan tadi pagi.
Mengajaknya bercerita dan bernostalgia
kembali tentang pertemuan kami yang terakhir, bermain dan berjoget bersama di
Time Zone….
Bercerita sambil tertawa tentang hal-hal
ringan yang lainnya.
Dan tiba-tiba dia bertanya kembali… tentang
sesuatu hal dimana aku juga tidak ingin menjawabnya.
Sesaat terdiam dan sempat aku menangkap
wajah ibunya yang mulai gelisah tetapi tetap tenang dan tersenyum.
Temanku sekali lagi bertanya, “Kamu pasti
tahu…apa penyakitku. Tidak akan diam seperti yang lainnya, seperti juga Mama”,
sambil melirik ke arah ibunya yang duduk di sampingnya.
Aku mencoba tersenyum ringan sambil menatap
ibunya (berbicara dari mata ke mata dengan sang ibu, berharap ibunya menolongku
dari situasi ini).
Hening sejenak dan sang ibu pergi ke arah
wastafel dengan mata berkaca-kaca.
Dan aku mengerti bahwa situasi ibunya
mungkin lebih pelik daripada situasiku sendiri saat ini.
Sambil menghela nafas sejenak dan tersenyum
ringan, aku memegang salah satu tangannya dan merapatkannya di antara kedua
tanganku (sebuah teknik “touching” yang aku pelajari dalam perkuliahan, yang
dipercaya dapat menenangkan situasi pelik… mungkin situasi seperti ini, pikirku
saat itu yang baru menginjak tahun kedua di bangku kuliah).
Agak lupa-lupa ingat tentang kata-kata yang
waktu itu aku utarakan…. Tapi pada intinya seperti ini,
“Saat ini aku belum bisa bilang tentang
jawaban dari pertanyaan kamu Din. Mungkin belum menjadi waktu yang tepat untuk
kamu tahu semuanya, tetapi percayalah … tidak ada sesuatu apapun yang tidak
akan kamu ketahui. Semuanya ada waktunya”.
Matanya mulai berkaca-kaca dan memohon untuk
mengatakan apa yang sedang terjadi pada dirinya, dia mengatakan dia sangat ingin tahu, bahkan
terucap kata-kata yang menebak kalau penyakitnya itu parah.
Ibunya kemudian mendekatinya dan menenangkannya.
Tak terasa mata ini mulai terasa hangat dan
sadar… sebelum aku menambah situasi semakin pelik, lebih baik aku permisi keluar.
Mungkin …. kalau dia bukan seseorang yang kukenal
… aku tidak akan terlalu hanyut dalam emosiku sendiri.
Selang beberapa hari kemudian… setelah selesai
dinas, aku mencoba berbicara dengan ibunya. Ibunya mengatakan kalau dia tidak sanggup
bila harus memberitahunya sekarang. Ibunya berjanji kalau dia akan segera
berbicara pada anaknya bersama dengan ayahnya yang akan datang dari luar pulau tidak
lama lagi.
Cukup lega mendengarnya … karena terus
terang tidak tega melihatnya terus
bertanya padaku dan perawat lain yang datang ke kamarnya.
Dan tentu saja sebagai temannya, aku selalu
diingatkan oleh rekan yang lain untuk tidak memberitahukan penyakitnya.
Selanjutnya aku mencoba untuk tidak sering
masuk ke kamarnya ketika dinas… mencoba untuk tidak terpancing emosi melihat
pancaran sinar mata sendunya ketika menjenguknya sepulang dinas.
Suatu sore… sedikit kaget .. ketika melihat
matanya bengkak dan banyak tissue yang memenuhi tempat tidurnya. Sedikit lega…
ayah dan ibunya sudah memberitahu tentang apa yang mereka sembunyikan selama
ini.
Aku melihat bahwa dia sangat terpukul tetapi
berusaha untuk tersenyum padaku.
Beberapa hari kemudian aku melihat kalau
pergerakannya sudah sangat sulit. Awal aku bertemu seminggu sebelumnya… dia
masih bisa duduk. Tapi sekarang sudah tidak kuat menahan beban dan hanya bisa
berbaring dan miring, ditambah lagi nyeri yang hilang timbul di area pinggang
belakang.
Saat itu aku berpikir… sedemikian parahnya
perjalanan penyakitnya tetapi dia masih bisa tersenyum.
Sewaktu dinas sore, aku melihatnya berkaca
sambil menyisir rambutnya yang tampak berminyak, aku menawarkan untuk
membantunya keramas di tempat tidur. Dia mengatakan sebenarnya sejak masuk RS,
dia tidak keramas karena tidak kuat berjalan ke kamar mandi.
Dan sambil berceloteh ringan, dia bertanya,
“Memang bisa keramas sambil berbaring, kalau aku tahu bisa… sudah dari dulu aku
minta keramas”
Sambil membantunya keramas, kami sambil
bercerita…
Dia cukup lega sudah mengetahui semuanya dan
dia mengatakan bahwa tidak mau kemoterapi. Dia mengatakan kalau keluarganya dan
dia sendiri tidak mempercayai kemoterapi sebagai salah satu penyembuhan dari
penyakitnya dan saat ini sedang mencoba mencari informasi mengenai pengobatan
alternatif lain.
Sambil bercerita…diapun bertanya apakah
benar kalau umurnya tidak lama bila menolak kemoterapi.
Sejenak terdiam ketika mendengar pertanyaan
itu sambil berpikir bagaimana aku harus tetap meyakinkan dia dimana saat ini
situasi hatinya masih menolak penyakit ini, “Menurut ilmu medis … saat ini
kemoterapi merupakan pengobatan yang tepat bagi penyakit ini, tetapi mungkin bukan
satu-satunya penyembuhan bagi penyakit ini. Mengenai usia seseorang …. tidak
ada seorang manusia … betapapun hebatnya manusia itu … tidak ada yang tahu
kapan kita kembali kepada Tuhan”.
Sekilas melihat air matanya meleleh dan dia
berujar, “Bisa sembuh-kan?”.
Aku terdiam dan mencoba memetakan kembali
tentang perjalanan hidupku yang pada waktu itupun mencoba mencari berbagai cara
untuk menyembuhkan penyakitku. Memang tidak jauh lebih serius daripada
penyakitnya, tetapi aku-pun juga ingin menularkan keyakinanku padanya,
“Din…jangan cape berdoa ya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”.
Dia menangis dan menganggukkan kepalanya
sambil mengucapkan terima kasih.
Sore itu adalah pertemuan kami yg terakhir.
Informasi yang kudengar… dia dan keluarganya
memutuskan untuk pulang dan menjalankan pengobatan alternatif. Beberapa saat setelah itu aku mencoba
menghubunginya melalui telepon tetapi tidak ada jawaban, mungkin nomor Hp-nya
sudah berganti atau ……???
Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya
sampai dengan saat ini.
Hanya dapat berharap hal yang terbaik dalam
hidupnya.
Kisah diatas merupakan salah
satu sepenggal kisah dari sekian banyak peristiwa yang memberikan pelajaran
berarti dalam perjalanan hidupku.
Dan aku bersyukur, aku boleh
memilih profesi ini… dimana aku banyak belajar tentang pergumulan dan
perjuangan hidup.

No comments:
Post a Comment