Saturday, February 4, 2012

Once Upon a Time in my Step


Once Upon a Time in my Step


Setiap hari selalu baru… berjumpa dengan hal-hal baru… dan belajar tentang hal-hal yang baru.
Perjalanan unik sering muncul tidak terduga baik yang kita kehendaki ataupun yang tidak kita kehendaki.
Tentu saja tidak ingin ada orang yang berada dalam situasi yang pelik…
Tapi pada akhir dari situasi itu…
aku percaya bahwa ada pelajaran berharga yang berguna dalam perjalanan hidup untuk melangkah ke depan dan menguatkan langkah kaki ini.


Suatu ketika secara tidak terduga…. bertemu dengan teman sewaktu praktik klinik di ruang perawatan medikal-bedah. Dia lebih tua 1 tahun, usianya waktu itu 21 tahun. Aku mengenalnya sebagai sosok perempuan yang riang dan senang tertawa serta berbagi cerita konyol yang lucu.

Dia dirawat di ruangan itu kurang lebih sudah berjalan 2 minggu. Ketika bertemu dengan dia, dia terlihat seperti tidak sakit layaknya pasien yang lain. Kami sempat berbincang sebentar saat aku merapikan tempat tidurnya, setelah selesai…. aku permisi untuk keluar.
Sebelum aku melangkah keluar dari kamar itu… dia bertanya sebenarnya penyakitnya apa ( dari raut wajahnya aku melihat kalau dia sungguh tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya saat ini ) dia hanya tahu kalau dia sakit pinggang.
Aku mengatakan padanya akan kembali menjenguknya setelah dinas dengan alasan hari ini pasien full di ruangan dan ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Sempat aku ragu apakah temanku itu yang tadi sewaktu pergantian shift dikatakan bahwa penyakitnya tidak boleh diberitahukan pada pasien itu sendiri. Sejujurnya akupun juga baru tahu kalau dia sedang dirawat ketika aku masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata setelah aku memastikan kembali untuk melihat rekam mediknya secara lebih seksama…. memang benar bahwa orangtuanya berpesan pada tenaga kesehatan yang merawatnya untuk tidak memberitahukan mengenai perkembangan penyakitnya kepada pasien sendiri ataupun orang lain kecuali pada orangtuanya. Dan aku mencoba membaca tentang perkembangan penyakitnya dari rekam mediknya.

Awal pertama kali dia didiagnosa menderita low back pain tiga bulan sebelum dirawat saat ini, lalu selang beberapa minggu kemudian dia didiagnosa menderita penyakit yang berbeda, dan dalam perkembangannya sampai pada akhirnya dia divonis menderita Ca tulang dan programnya direncanakan chemoterapi.

Tidak kuduga… temanku menderita Ca tulang. Padahal belum sampai setengah tahun yang lalu… aku bertemu, bermain bersama dia dan teman-teman yang lainnya di arena Time Zone, dia tidak ada keluhan apa-apa.

Dari penjelasan dokter yang merawatnya waktu itu kepada ibunya bahwa bila pasien menolak di-kemoterapi, hidupnya hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu tahun.

Selesai dinas…. Aku memenuhi janjiku untuk datang menjenguknya.
Dalam perjalanan menuju ke ruangan tersebut … sangat berat sekali untuk tidak mengatakan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dilema antara saat ini aku adalah seorang perawat yang harus memegang kode etik profesiku dan aku juga adalah temannya.
Sambil berjalan… sambil berpikir dan berandai-andai. Aku membayangkan kalau berada dalam posisinya dan aku tahu kalau aku mempunyai penyakit yang parah dan sangat mengancam kehidupanku… apa yang akan kulakukan.
Berpikir berbagai kemungkinan yang akan terjadi …. sangat mungkin sekali putus asa dan tidak mau dirawat atau aku akan tetap berjuang melawan penyakit ini.
Mungkin alasan yang terburuklah yang mendasari orangtuanya untuk berbuat hal seperti ini ; menutupi penyakit anaknya dari anak itu sendiri.

Setelah sampai di ruangannya… dengan wajah yang cerah, dia menyapa, aku tahu kalau dia menunggu jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan tadi pagi.
Mengajaknya bercerita dan bernostalgia kembali tentang pertemuan kami yang terakhir, bermain dan berjoget bersama di Time Zone….
Bercerita sambil tertawa tentang hal-hal ringan yang lainnya.
Dan tiba-tiba dia bertanya kembali… tentang sesuatu hal dimana aku juga tidak ingin menjawabnya.
Sesaat terdiam dan sempat aku menangkap wajah ibunya yang mulai gelisah tetapi tetap tenang dan tersenyum.
Temanku sekali lagi bertanya, “Kamu pasti tahu…apa penyakitku. Tidak akan diam seperti yang lainnya, seperti juga Mama”, sambil melirik ke arah ibunya yang duduk di sampingnya.
Aku mencoba tersenyum ringan sambil menatap ibunya (berbicara dari mata ke mata dengan sang ibu, berharap ibunya menolongku dari situasi ini).
Hening sejenak dan sang ibu pergi ke arah wastafel dengan mata berkaca-kaca.
Dan aku mengerti bahwa situasi ibunya mungkin lebih pelik daripada situasiku sendiri saat ini.

Sambil menghela nafas sejenak dan tersenyum ringan, aku memegang salah satu tangannya dan merapatkannya di antara kedua tanganku (sebuah teknik “touching” yang aku pelajari dalam perkuliahan, yang dipercaya dapat menenangkan situasi pelik… mungkin situasi seperti ini, pikirku saat itu yang baru menginjak tahun kedua di bangku kuliah).

Agak lupa-lupa ingat tentang kata-kata yang waktu itu aku utarakan…. Tapi pada intinya seperti ini,
“Saat ini aku belum bisa bilang tentang jawaban dari pertanyaan kamu Din. Mungkin belum menjadi waktu yang tepat untuk kamu tahu semuanya, tetapi percayalah … tidak ada sesuatu apapun yang tidak akan kamu ketahui. Semuanya ada waktunya”. 

Matanya mulai berkaca-kaca dan memohon untuk mengatakan apa yang sedang terjadi pada dirinya,  dia mengatakan dia sangat ingin tahu, bahkan terucap kata-kata yang menebak kalau penyakitnya itu parah. 

Ibunya kemudian mendekatinya dan menenangkannya.
Tak terasa mata ini mulai terasa hangat dan sadar… sebelum aku menambah situasi semakin pelik, lebih baik aku permisi keluar. 

Mungkin …. kalau dia bukan seseorang yang kukenal … aku tidak akan terlalu hanyut dalam emosiku sendiri.
Selang beberapa hari kemudian… setelah selesai dinas, aku mencoba berbicara dengan ibunya. Ibunya mengatakan kalau dia tidak sanggup bila harus memberitahunya sekarang. Ibunya berjanji kalau dia akan segera berbicara pada anaknya bersama dengan ayahnya yang akan datang dari luar pulau tidak lama lagi.

Cukup lega mendengarnya … karena terus terang tidak tega melihatnya terus  bertanya padaku dan perawat lain yang datang ke kamarnya.
Dan tentu saja sebagai temannya, aku selalu diingatkan oleh rekan yang lain untuk tidak memberitahukan penyakitnya.
Selanjutnya aku mencoba untuk tidak sering masuk ke kamarnya ketika dinas… mencoba untuk tidak terpancing emosi melihat pancaran sinar mata sendunya ketika menjenguknya sepulang dinas.

Suatu sore… sedikit kaget .. ketika melihat matanya bengkak dan banyak tissue yang memenuhi tempat tidurnya. Sedikit lega… ayah dan ibunya sudah memberitahu tentang apa yang mereka sembunyikan selama ini.
Aku melihat bahwa dia sangat terpukul tetapi berusaha untuk tersenyum padaku.

Beberapa hari kemudian aku melihat kalau pergerakannya sudah sangat sulit. Awal aku bertemu seminggu sebelumnya… dia masih bisa duduk. Tapi sekarang sudah tidak kuat menahan beban dan hanya bisa berbaring dan miring, ditambah lagi nyeri yang hilang timbul di area pinggang belakang.
Saat itu aku berpikir… sedemikian parahnya perjalanan penyakitnya tetapi dia masih bisa tersenyum.

Sewaktu dinas sore, aku melihatnya berkaca sambil menyisir rambutnya yang tampak berminyak, aku menawarkan untuk membantunya keramas di tempat tidur. Dia mengatakan sebenarnya sejak masuk RS, dia tidak keramas karena tidak kuat berjalan ke kamar mandi.
Dan sambil berceloteh ringan, dia bertanya, “Memang bisa keramas sambil berbaring, kalau aku tahu bisa… sudah dari dulu aku minta keramas”

Sambil membantunya keramas, kami sambil bercerita…
Dia cukup lega sudah mengetahui semuanya dan dia mengatakan bahwa tidak mau kemoterapi. Dia mengatakan kalau keluarganya dan dia sendiri tidak mempercayai kemoterapi sebagai salah satu penyembuhan dari penyakitnya dan saat ini sedang mencoba mencari informasi mengenai pengobatan alternatif lain.
Sambil bercerita…diapun bertanya apakah benar kalau umurnya tidak lama bila menolak kemoterapi.
Sejenak terdiam ketika mendengar pertanyaan itu sambil berpikir bagaimana aku harus tetap meyakinkan dia dimana saat ini situasi hatinya masih menolak penyakit ini, “Menurut ilmu medis … saat ini kemoterapi merupakan pengobatan yang tepat bagi penyakit ini, tetapi mungkin bukan satu-satunya penyembuhan bagi penyakit ini. Mengenai usia seseorang …. tidak ada seorang manusia … betapapun hebatnya manusia itu … tidak ada yang tahu kapan kita kembali kepada Tuhan”.

Sekilas melihat air matanya meleleh dan dia berujar, “Bisa sembuh-kan?”.

Aku terdiam dan mencoba memetakan kembali tentang perjalanan hidupku yang pada waktu itupun mencoba mencari berbagai cara untuk menyembuhkan penyakitku. Memang tidak jauh lebih serius daripada penyakitnya, tetapi aku-pun juga ingin menularkan keyakinanku padanya, “Din…jangan cape berdoa ya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”.
Dia menangis dan menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.

Sore itu adalah pertemuan kami yg terakhir.

Informasi yang kudengar… dia dan keluarganya memutuskan untuk pulang dan menjalankan pengobatan alternatif.  Beberapa saat setelah itu aku mencoba menghubunginya melalui telepon tetapi tidak ada jawaban, mungkin nomor Hp-nya sudah berganti atau ……???

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sampai dengan saat ini.
Hanya dapat berharap hal yang terbaik dalam hidupnya.
  

Kisah diatas merupakan salah satu sepenggal kisah dari sekian banyak peristiwa yang memberikan pelajaran berarti dalam perjalanan hidupku.

Dan aku bersyukur, aku boleh memilih profesi ini… dimana aku banyak belajar tentang pergumulan dan perjuangan hidup.



No comments:

Post a Comment