Hiruk pikuk di ruangan itu begitu sangat melelahkan. Waktu yang bergulir terasa cepat berlalu .. tanpa terasa
hari sudah beranjak sore. Kedua betis kakiku mulai terasa linu, perutku mulai
berbunyi dan teronggokanku terasa kering seolah-olah tidak ada lagi air liur
yang dapat ditelan. Sudah pukul setengah tiga sore rupanya. Waahh ... sejak
pagi tadi aku belum sempat duduk, minum, dan makan siang. Tetapi aku harus
bergegas untuk menyelesaikan tugasku.
”Suster, bapak minta minum .. sedikit
saja”, suara itu memanggilku saat aku masuk ke ruangan itu.
”Boleh Pak .. tapi minumnya pakai sendok
saja ya, 2 sendok saja. Nanti malam Bapak harus minum obat lagi dan pasti butuh
minum juga”, aku segera membantunya minum.
Sejenak aku miris dengan keadaan
penyakitnya dan bertanya-tanya di dalam hati bagaimana perasaannya melewati
hari-hari dalam hidupnya yang sudah lama menderita penyakit ginjal kronis dan
banyak sekali pantangan makanan serta pembatasan minum hanya 2 gelas setiap
hari .. belum lagi dengan jadwal cuci darah 2-3 kali setiap minggu.
”Aduh Suster .. mulut saya ini pahit. Sudah
lama saya gak merokok, boleh merokok sebentar saja tidak?”, tanya Bapak di
tempat tidur sebelah berbicara kepadaku.
Seketika kedua mataku membelalak sambil
terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalaku menyiratkan keheranan.
Istri Bapak tersebut yang sedang duduk di
samping tempat tidur suaminya pun juga kaget dan memarahinya, ”Bapak ini kok yo
ngeyel lo, sudah tahu sakit paru-paru ini karena banyak merokok kok malah nanya
mau merokok”.
”Suster kok belum pulang, kerjanya sampai
jam berapa?”, tanya pasien lainnya. Pasien ini sudah 3 minggu dirawat inap
sehingga sepertinya sudah hafal dengan waktu rotasi dinas perawat di ruangan
ini.
”Iya Pak, sebentar lagi”, ujarku sambil
melirik ke arah jam dinding di ruangan dan kembali melanjutkan pekerjaanku membantu
memberi sonde makanan pada pasien lainnya yang menderita stroke.
Aku begitu menikmati pekerjaanku .. profesi
ini menjadi pilihan hidupku sejak aku duduk di bangku SMU. Sebenarnya pilihanku
ini bertentangan dengan keinginan orangtuaku yang menghendaki aku menjadi
seorang dokter. Sejenak aku teringat pertengkaran dengan ibuku sewaktu aku
lulus SMU.
”Mama .. Aku mau jadi perawat bukan dokter.
Titik”, kataku dengan suara keras karena merasa darah mudaku bergejolak saat
itu mendapat pertentangan tentang keinginanku.
”Tapi kamu tidak tahu, pekerjaan perawat
itu rendah sekali seperti jadi pembantu dan pesuruh. Selain itu gajinya juga
kecil, apa kamu bisa membiayai kebutuhan kamu dan keluargamu bila nantinya
bekerja menjadi perawat?”, tanya kembali ibuku dengan suara yang tak kalah
kerasnya membalasku.
”Pasti bisa, aku yakin pasti Tuhan akan
mengatur semuanya”, balasku kembali.
Ibuku selalu mencoba membujukku untuk
mempertimbangkan kembali. Bahkan sampai aku masuk dalam perkuliahan pun beliau
terkadang mengemukakan perasaannya yang sangat berat hati tentang keputusanku.
Seolah-olah bujukannya hanya keluar masuk telingaku .. aku tetap tak bergeming
dan memilih untuk terus berjalan menggapai mimpiku ini.
Aku mengawali perjalanan menggapai mimpiku
ini di kota Yogya .. kota yang menyimpan keteduhan dan keramahan dari sebagian
besar penduduknya. Hari demi hari aku lewati di kota gudeg ini dengan penuh
antusias dan semangat untuk tetap bertekun menggapai mimpiku. Di tempat ini aku
banyak sekali belajar tentang hal-hal baru yang perlahan tapi pasti membentuk
kepribadianku dan kesiapanku untuk menjadi seorang perawat.
Perjalanan menggapai mimpiku ini bukanlah
hal yang ringan. Semula aku mengira hanya belajar merawat pasien, belajar untuk
berkomunikasi yang baik dengan pasien. Tetapi lebih dari itu .. Aku harus
belajar tentang sistem-sistem tubuh beserta dengan fungsi dari organ-organ
tubuh pada manusia, farmakologi obat, gizi dan asupan nutrisi bagi orang sehat
maupun orang yang sakit dengan berbagai macam penyakit, segala sesuatu tentang
bermacam-macam penyakit dan perjalanannya, dan lain sebagainya.
Aku pernah bertanya pada dosenku mengapa
pengetahuan yang kami pelajari ini sama seperti mahasiswa kedokteran dan apa
yang membedakan aplikasi pekerjaan kami dari tenaga kesehatan lainnya. Beliau memberikan
analogi singkat dengan perumpamaan menanam dan merawat sebuah tanaman. Ketika
kamu mengamati pertumbuhan dan perkembangan sebuah tanaman .. kamu akan
menemukan hal-hal yg unik setiap harinya, adakalanya tanaman itu memiliki suatu
gangguan entah itu karena benalu, terhinggap hama, dahan yg terlalu rimbun,
bunganya yg mudah rontok ataupun hasil buahnya yg tdk terlalu baik. Saat itu
tentunya kamu akan berusaha memberikan pupuk atau obat-obatan untuk
memulihkannya .. nah itulah saatnya kamu bekerjasama dengan dokter dan
apoteker. Ketika kamu ingin menebang dahannya yg terlalu rimbun .. kamu
bekerjasama dengan dokter bedah untuk memangkasnya. Lalu apakah tugasmu sebagai
seorang perawat? Kamu bertanggungjawab untuk mengamati setiap waktu dan
perubahan, memberikan asupan nutrisi setiap hari lalu menganalisa tindakan yg
wajib kamu lakukan untuk mencegah gangguan yg mungkin timbul serta memberikan
pupuk dan obat-obatan yg tepat yg sudah dikolaborasi sebelumnya.
It’s amazing .. looks like mother’s job, ya .. perawat itu
bertugas sama seperti seorang ibu.
Orang-orang pada umumnya memandang bahwa pekerjaan perawat
seperti seorang pembantu yg disuruh-suruh atau pekerja rendahan karena bertugas
membersihkan kotoran pasien dan lain sebagainya.
Tetapi bila kita sungguh melihat dalam keluarga kita ..
sebenarnya ibu kita pun juga melakukan hal yang sama. Ketika kita masih kecil
dulu ataupun sewaktu kita yg sudah beranjak besar ini dalam keadaan sakit .. siapa
lagi yg bertugas melayani kita kalau bukan ibu kita.
Bagiku .. walaupun seorang ibu adalah seorang pelayan di rumah
tetapi beliau adalah seorang guru dan sosok yg paling dihormati di rumah. Bahkan
sampai kelak kita pun menjadi seorang ibu dan tidak tinggal satu rumah dengan
ibu kita .. sosok ibu kita tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Nah .. itulah analogi sederhana tentang siapakah perawat itu.
Back to my daily life ..
Profesiku ini sangat berkaitan dengan rotasi dinas, baik itu
dinas pagi, sore ataupun malam. Kalau ditanya aku lebih suka dinas kapan .. aku
tidak memiliki jawaban yg pasti untuk hal ini karena dinas di waktu kapanpun
tetap menyimpan sisi menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam keseharian
pekerjaannya.
Ketika dinas pagi .. pukul lima
pagi tepat aku harus segera tiba di halte busway supaya tidak terjebak macet di
keramaian ibukota. Maklum tempat tinggalku jauh dari RS tempatku bekerja. Terlambat
10 menit saja .. ouu .. jantung ini sudah berdenyut cepat sepanjang perjalanan
sambil berdoa di dalam hati dapat tiba sebelum operan shift dimulai.
Setelah operan shift .. senyawa adrenalin dalam tubuhku bergerak
naik .. oou wonderful job .. I was enjoy that time .. It was really me .. I was
doing mom’s job .. That was one of my best experience I ever had ..
Dan sekarang .. aku kembali menekuni
aktivitasku dalam perkuliahan. Kesempatan emas yg Tuhan berikan padaku melalui
beasiswa penuh dari pemerintah setempat untuk melanjutkan studiku. Saat ini aku
sedang meniti pelangi untuk menggapai bintang .. bintang itu masih jauh disana
.. tetapi aku yakin Tuhan pasti sedang bergandengan tangan bersamaku saat ini
untuk menuntunku menuju bintang yg sudah dipilihkan-Nya untukku.
Bila ditanya apakah aku merindukan
aktivitasku yg dulu saat bekerja di RS .. dengan pasti aku akan menjawab ”I do
.. I really miss it”.
Banyak pelajaran yg aku dapatkan waktu itu
.. berbagai ilmu dan teknologi serta pelajaran kehidupan sebagai bekal untuk
menguatkan langkah kaki ini selanjutnya.
Being a nurse is
one of wonderful job.
Best regards,
Novlin
No comments:
Post a Comment