Saturday, March 10, 2012

Moments to Remember


Hiruk pikuk di ruangan itu begitu sangat melelahkan. Waktu yang bergulir terasa cepat berlalu .. tanpa terasa hari sudah beranjak sore. Kedua betis kakiku mulai terasa linu, perutku mulai berbunyi dan teronggokanku terasa kering seolah-olah tidak ada lagi air liur yang dapat ditelan. Sudah pukul setengah tiga sore rupanya. Waahh ... sejak pagi tadi aku belum sempat duduk, minum, dan makan siang. Tetapi aku harus bergegas untuk menyelesaikan tugasku.

”Suster, bapak minta minum .. sedikit saja”, suara itu memanggilku saat aku masuk ke ruangan itu.
”Boleh Pak .. tapi minumnya pakai sendok saja ya, 2 sendok saja. Nanti malam Bapak harus minum obat lagi dan pasti butuh minum juga”, aku segera membantunya minum.

Sejenak aku miris dengan keadaan penyakitnya dan bertanya-tanya di dalam hati bagaimana perasaannya melewati hari-hari dalam hidupnya yang sudah lama menderita penyakit ginjal kronis dan banyak sekali pantangan makanan serta pembatasan minum hanya 2 gelas setiap hari .. belum lagi dengan jadwal cuci darah 2-3 kali setiap minggu.

”Aduh Suster .. mulut saya ini pahit. Sudah lama saya gak merokok, boleh merokok sebentar saja tidak?”, tanya Bapak di tempat tidur sebelah berbicara kepadaku.
Seketika kedua mataku membelalak sambil terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalaku menyiratkan keheranan.
Istri Bapak tersebut yang sedang duduk di samping tempat tidur suaminya pun juga kaget dan memarahinya, ”Bapak ini kok yo ngeyel lo, sudah tahu sakit paru-paru ini karena banyak merokok kok malah nanya mau merokok”.

”Suster kok belum pulang, kerjanya sampai jam berapa?”, tanya pasien lainnya. Pasien ini sudah 3 minggu dirawat inap sehingga sepertinya sudah hafal dengan waktu rotasi dinas perawat di ruangan ini.
”Iya Pak, sebentar lagi”, ujarku sambil melirik ke arah jam dinding di ruangan dan kembali melanjutkan pekerjaanku membantu memberi sonde makanan pada pasien lainnya yang menderita stroke.

Aku begitu menikmati pekerjaanku .. profesi ini menjadi pilihan hidupku sejak aku duduk di bangku SMU. Sebenarnya pilihanku ini bertentangan dengan keinginan orangtuaku yang menghendaki aku menjadi seorang dokter. Sejenak aku teringat pertengkaran dengan ibuku sewaktu aku lulus SMU.

”Mama .. Aku mau jadi perawat bukan dokter. Titik”, kataku dengan suara keras karena merasa darah mudaku bergejolak saat itu mendapat pertentangan tentang keinginanku.
”Tapi kamu tidak tahu, pekerjaan perawat itu rendah sekali seperti jadi pembantu dan pesuruh. Selain itu gajinya juga kecil, apa kamu bisa membiayai kebutuhan kamu dan keluargamu bila nantinya bekerja menjadi perawat?”, tanya kembali ibuku dengan suara yang tak kalah kerasnya membalasku.
”Pasti bisa, aku yakin pasti Tuhan akan mengatur semuanya”, balasku kembali.

Ibuku selalu mencoba membujukku untuk mempertimbangkan kembali. Bahkan sampai aku masuk dalam perkuliahan pun beliau terkadang mengemukakan perasaannya yang sangat berat hati tentang keputusanku. Seolah-olah bujukannya hanya keluar masuk telingaku .. aku tetap tak bergeming dan memilih untuk terus berjalan menggapai mimpiku ini.

Aku mengawali perjalanan menggapai mimpiku ini di kota Yogya .. kota yang menyimpan keteduhan dan keramahan dari sebagian besar penduduknya. Hari demi hari aku lewati di kota gudeg ini dengan penuh antusias dan semangat untuk tetap bertekun menggapai mimpiku. Di tempat ini aku banyak sekali belajar tentang hal-hal baru yang perlahan tapi pasti membentuk kepribadianku dan kesiapanku untuk menjadi seorang perawat.

Perjalanan menggapai mimpiku ini bukanlah hal yang ringan. Semula aku mengira hanya belajar merawat pasien, belajar untuk berkomunikasi yang baik dengan pasien. Tetapi lebih dari itu .. Aku harus belajar tentang sistem-sistem tubuh beserta dengan fungsi dari organ-organ tubuh pada manusia, farmakologi obat, gizi dan asupan nutrisi bagi orang sehat maupun orang yang sakit dengan berbagai macam penyakit, segala sesuatu tentang bermacam-macam penyakit dan perjalanannya, dan lain sebagainya.

Aku pernah bertanya pada dosenku mengapa pengetahuan yang kami pelajari ini sama seperti mahasiswa kedokteran dan apa yang membedakan aplikasi pekerjaan kami dari tenaga kesehatan lainnya. Beliau memberikan analogi singkat dengan perumpamaan menanam dan merawat sebuah tanaman. Ketika kamu mengamati pertumbuhan dan perkembangan sebuah tanaman .. kamu akan menemukan hal-hal yg unik setiap harinya, adakalanya tanaman itu memiliki suatu gangguan entah itu karena benalu, terhinggap hama, dahan yg terlalu rimbun, bunganya yg mudah rontok ataupun hasil buahnya yg tdk terlalu baik. Saat itu tentunya kamu akan berusaha memberikan pupuk atau obat-obatan untuk memulihkannya .. nah itulah saatnya kamu bekerjasama dengan dokter dan apoteker. Ketika kamu ingin menebang dahannya yg terlalu rimbun .. kamu bekerjasama dengan dokter bedah untuk memangkasnya. Lalu apakah tugasmu sebagai seorang perawat? Kamu bertanggungjawab untuk mengamati setiap waktu dan perubahan, memberikan asupan nutrisi setiap hari lalu menganalisa tindakan yg wajib kamu lakukan untuk mencegah gangguan yg mungkin timbul serta memberikan pupuk dan obat-obatan yg tepat yg sudah dikolaborasi sebelumnya.
It’s amazing .. looks like mother’s job, ya .. perawat itu bertugas sama seperti seorang ibu.
Orang-orang pada umumnya memandang bahwa pekerjaan perawat seperti seorang pembantu yg disuruh-suruh atau pekerja rendahan karena bertugas membersihkan kotoran pasien dan lain sebagainya.
Tetapi bila kita sungguh melihat dalam keluarga kita .. sebenarnya ibu kita pun juga melakukan hal yang sama. Ketika kita masih kecil dulu ataupun sewaktu kita yg sudah beranjak besar ini dalam keadaan sakit .. siapa lagi yg bertugas melayani kita kalau bukan ibu kita.
Bagiku .. walaupun seorang ibu adalah seorang pelayan di rumah tetapi beliau adalah seorang guru dan sosok yg paling dihormati di rumah. Bahkan sampai kelak kita pun menjadi seorang ibu dan tidak tinggal satu rumah dengan ibu kita .. sosok ibu kita tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Nah .. itulah analogi sederhana tentang siapakah perawat itu.

Back to my daily life ..
Profesiku ini sangat berkaitan dengan rotasi dinas, baik itu dinas pagi, sore ataupun malam. Kalau ditanya aku lebih suka dinas kapan .. aku tidak memiliki jawaban yg pasti untuk hal ini karena dinas di waktu kapanpun tetap menyimpan sisi menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam keseharian pekerjaannya.

Ketika dinas pagi .. pukul lima pagi tepat aku harus segera tiba di halte busway supaya tidak terjebak macet di keramaian ibukota. Maklum tempat tinggalku jauh dari RS tempatku bekerja. Terlambat 10 menit saja .. ouu .. jantung ini sudah berdenyut cepat sepanjang perjalanan sambil berdoa di dalam hati dapat tiba sebelum operan shift dimulai.
Setelah operan shift .. senyawa adrenalin dalam tubuhku bergerak naik .. oou wonderful job .. I was enjoy that time .. It was really me .. I was doing mom’s job .. That was one of my best experience I ever had ..

Dan sekarang .. aku kembali menekuni aktivitasku dalam perkuliahan. Kesempatan emas yg Tuhan berikan padaku melalui beasiswa penuh dari pemerintah setempat untuk melanjutkan studiku. Saat ini aku sedang meniti pelangi untuk menggapai bintang .. bintang itu masih jauh disana .. tetapi aku yakin Tuhan pasti sedang bergandengan tangan bersamaku saat ini untuk menuntunku menuju bintang yg sudah dipilihkan-Nya untukku.

Bila ditanya apakah aku merindukan aktivitasku yg dulu saat bekerja di RS .. dengan pasti aku akan menjawab ”I do .. I really miss it”.
Banyak pelajaran yg aku dapatkan waktu itu .. berbagai ilmu dan teknologi serta pelajaran kehidupan sebagai bekal untuk menguatkan langkah kaki ini selanjutnya.

Being a nurse is one of wonderful job.

Best regards,

Novlin

No comments:

Post a Comment